Ranting Zaitun di Puncak Bukit
Sumber: Kompas
HARI itu, 13 November 1974, dunia seakan dihentikan sejenak. Di atas podium Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa berdirilah seorang lelaki berkafiyeh kotak-kotak hitam putih dengan sarung pistol menggantung di pinggangnya. Tangannya memegang sepotong ranting.
DAN, mulailah ia berkata, "Hari ini, saya datang ke sini membawa sepotong ranting zaitun dan sepucuk senjata perjuangan kebebasan." Setelah menarik napas ia melanjutkan, "Jangan biarkan ranting zaitun ini terlepas dari tangan saya."
Dialah Yasser Arafat, Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Sejak saat itu wajahnya begitu dikenal di seluruh pelosok dunia. Ia selalu tampil berkafiyeh, dengan pistol menggantung di pinggangnya, dan berseragam hijau-hijau. Wajahnya berkumis, berjenggot, dan berewokan. Semua itu menjadi lambang perjuangannya.
Sebenarnya, mengenakan kafiyeh bukanlah hal baru bagi orang-orang di Timur Tengah. Said K Aburish dalam bukunya yang berjudul Arafat, From Defender to Dictator menulis, kafiyeh pertama kali digunakan Arafat ketika ia menghadiri Kongres Mahasiswa Internasional di Praha, Agustus 1956.
Sejak saat itu, kafiyeh kotak-kotak warna hitam putih menjadi ciri khas penampilannya. Kafiyeh sendiri di zaman perjuangan melawan pasukan pendudukan Inggris, 1936-1939, menjadi simbol perlawanan para pejuang Palestina. Bahkan, kemudian kafiyeh menjadi lambang revolusi Dunia Ketiga di era Perang Dingin.
Hari Kamis kemarin, sang pembawa ranting zaitun-lambang perdamaian, kehidupan, dan kesuburan-itu telah tiada. Ia meninggalkan impiannya yang belum terwujud. Arafat mempunyai sebuah impian. Mimpi Arafat adalah mendirikan negara Palestina Merdeka bagi rakyat Palestina!
Impian itu telah menjadi energi dan semangat perjuangannya, bahkan ada yang mengatakan telah menjadi fanatismenya. Ia juga mempersonifikasi impiannya itu pada dirinya sendiri. Namun, sampai akhir hayatnya ia tidak melihat mimpinya itu menjadi kenyataan.
YASSER Abdul-Ra’ouf Qudwa Al-Husseini. Itulah nama lengkapnya. Ada pula yang menulis Mohammed Abd al-Rahman Abd al-Raouf Arafat. Yang pasti, orang lebih mengenal nama Pemimpin Palestina itu sebagai Yasser Arafat. Sejak kecil ia sudah dipanggil Yasser yang artinya ’mudah’ atau ’tidak ada masalah’.
Nama yang begitu panjang itu adalah gabungan dari banyak nama orang. Mohammed Abdul Rahman adalah nama pertamanya. Abdul Ra’ouf adalah nama ayahnya. Arafat adalah nama kakeknya. Al Qudwa adalah nama keluarga. Dan, Al-Husseini nama klan di mana Al Qudwa merupakan salah satu anggota klan itu. Akhirnya ia dikenal dengan nama Yasser Arafat.
Menurut biografi yang dikeluarkan Kementerian Penerangan Otoritas Palestina, Arafat lahir pada 24 Agustus 1929 di Jalur Gaza (ada yang menyebut ia lahir di Cairo, Mesir).
Arafat adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Al-Husseini yang ternama di Jerusalem.
Sejak kecil bakat kepemimpinannya sudah kelihatan. Ia suka mengumpulkan anak- anak Arab lain di distriknya, membagi mereka dalam kelompok-kelompok, dan melatih mereka berbaris.
Sejak umur 17 tahun, Arafat sudah terlibat dalam penyelundupan senjata dari Mesir ke Palestina. Ia belajar teknik sipil di Universitas Cairo pada tahun 1950 dan menjadi aktivis mahasiswa. Tahun 1952 ia terpilih menjadi Ketua Persatuan Mahasiswa Palestina dan menjadi penyunting di majalah Voice of Palestine.
Perjalanan hidup Arafat begitu panjang dan berwarna, seiring dengan perjuangan bangsa Palestina. Ia ada di antara mereka, di dalam mereka, dan menjadi satu dengan mereka. Oleh karena itu, Arafat pun telah menjadi simbol. Ia bukan sekadar seorang pemimpin atau kepala negara atau presiden, ia adalah simbol perjuangan Palestina.
Itulah sebabnya, antara Arafat dan Palestina tak dapat dipisahkan. Karena itu, orang pun lantas menyebutnya sebagai "Mr Palestine", sekadar untuk melukiskan betapa berartinya Arafat bagi Palestina. Sama halnya dengan Pangeran Norodom Sihanouk dengan Kamboja. Sihanouk harus diakui adalah bagian yang paling penting dari negara yang disebut Kamboja itu.
ARAFAT bukan simbol sembarang simbol Palestina. Ia bisa dikatakan roh. Dia adalah semangat. Dia adalah inspirasi. Setiap tindakannya memengaruhi hidup jutaan orang.
Ketika ia muncul di panggung sejarah Timur Tengah, pada akhir dasawarsa 1950-an, orang-orang Palestina nyaris sudah dilupakan. Nama Palestina sudah dihapus dari peta. Israel, Jordania, dan Mesir telah membagi wilayah itu di antara mereka. Bahkan, dunia pun sudah memutuskan bahwa tidak ada entitas nasional Palestina.
Memang, di Dunia Arab "Masalah Palestina" masih disebut-sebut. Namun, masalah tersebut dapat diibaratkan hanya seperti bola yang ditendang ke sana kemari oleh para penguasa di negara-negara kawasan itu. Ceritanya menjadi lain setelah Yasser Arafat mendirikan Gerakan Pembebasan Nasional Palestina atau Fatah pada tahun 1958 di Kuwait.
Inilah yang oleh Uri Avnery, lewat tulisannya, "A Man and His People" di jurnal mingguan The Palestine Chronicle 10 November 2004, disebut sebagai revolusi pertama yang dikobarkan Arafat. Revolusi untuk membebaskan orang-orang Palestina dari para pemimpin Arab sehingga mereka dapat bebas berbicara dan bertindak.
Pada pertengahan dasawarsa 1960-an, Arafat mengobarkan revolusi kedua, yakni perjuangan bersenjata melawan Israel. Perjuangan bersenjata ini, yang sering disebut lewat perang gerilya, telah mengangkat Palestina masuk ke dalam agenda dunia.
Ada yang berpendapat, seandainya Arafat tidak menempuh cara angkat senjata, niscaya dunia tak akan memerhatikan teriakan mereka untuk menuntut kemerdekaan. Misalnya, pembunuhan terhadap para atlet Olimpiade Muenchen pada September 1972 dan pembajakan Achille Lauro Oktober 1985. Hasilnya, PLO diakui sebagai "satu-satunya wakil rakyat Palestina" dan 30 tahun lalu Arafat diundang menyampaikan pidato bersenjata di Majelis Umum PBB.
Perjuangan bersenjata bagi Arafat sekadar sarana. Tidak lebih dari itu. Perjuangan bersenjata bukanlah sebuah ideologi. Perjuangan senjata juga bukan tujuan akhir. Akan tetapi, perjuangan bersenjata adalah sebuah instrumen yang akan memperkuat dan menyegarkan rakyat Palestina serta memperoleh pengakuan dunia.
Sejarah berkehendak lain. Bulan Oktober 1973 pecah perang kembali yang disebut sebagai Perang Yom Kippur. Hasil peperangan itu menjadi titik balik perjuangan Arafat. Ia menyaksikan tentara Mesir dan Suriah dikalahkan tentara Israel. Kenyataan itu meyakinkan dia bahwa Israel tak dapat dikalahkan lewat jalan perjuangan senjata.
Setelah perang berakhir, Arafat segera mengobarkan revolusi ketiga: ia memutuskan PLO harus dapat berhubungan dengan Israel, berunding, dan akhirnya mencapai kesepakatan.
Sejak saat itulah perundingan demi perundingan antara Palestina dan Israel dilakukan. Dan, peranan Arafat sebagai sumbu, pilar, motor penggerak, dan roh perjuangan Palestina makin kuat.
ERA Yasser Arafat sudah berakhir kemarin. Dalam istilah Glenn E Robinson, pakar politik Palestina dari Naval Postgraduate School di Monterey, California, Amerika Serikat, "Era Orang Besar" di Palestina sudah berlalu.
Di Ramallah jasadnya dimakamkan. Di Ramallah yang sering disebut sebagai "Bukit Tuhan"-karena Ramallah berasal dari dua kata, ram atau rama yang berarti ’bukit’ dan Allah-Arafat yang pernah disebut sebagai teroris dan akhirnya menjadi pendamai dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1994 itu bersemayam untuk selamanya.
Orang nanti akan mengingat, di puncak Bukit Yudea (1.267 meter di atas permukaan Laut Mati dan 15 kilometer sebelah utara Jerusalem) yang didirikan pada abad ke-16 oleh Rashed Haddad, seorang pandai besi, itu ranting zaitun ditanam. Di puncak bukit tersebut diharapkan ranting zaitun itu bersemi. Dan, perdamaian pun berbunga. (trias kuncahyono)