RAMALLAH --Beberapa kali Arafat lolos dari incaran maut lewat tangan Israel. Yasser Arafat adalah simbol perjuangan bangsa Palestina. Ia akhirnya pergi, Rabu (10/11) di Paris, Prancis. Terlahir dengan nama Mohammed Abdel-Rawf Arafat al-Qudwa al-Hussaini di Yerusalem pada 4 Agustus 1929 sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan pedagang Palestina yang makmur. Catatan kelahiran Arafat sendiri cenderung kacau dengan adanya beberapa bukti yang menyebutkan Kairo, Mesir sebagai tempat kelahirannya.
Pada usia empat tahun ibunya, Zahwa, meninggal dunia. Arafat dan saudara-saudaranya segera dikirim ke pulang dan dibesarkan oleh keluarga ibunya, Al-Kidwa di Gaza. Namun empat tahun kemudian ayahnya kembali memboyong Arafat bersaudara kembali ke Kairo.
Di kota inilah ketika usianya masih belasan tahun, Arafat segera terlibat dalam perjuangan melawan penjajahan Inggris dan Yahudi. Saat itu Arafat dan teman-temannya membantu menyelundupkan senjata ke Palestina. Persinggungan dengan aroma mesiu dan peperangan semakin kuat saat pecah perang Arab-Israel pada 1948. Perang itu pula menjadikan Arafat sebagai yatim piatu.
Pada 1950 Arafat mendirikan Organisasi Pelajar Palestina dan menjadi ketuanya. Disela-sela usahanya membangun negara Palestina, Arafat mampu menyelesaikan pendidikannya pada 1956. Insting gerilyanya membuat Arafat bersama dengan Khalil al-Wazir, Faruq Khaddumi, Salah Khalaf, dan Mahmud Abbas mendirikan faksi Fatah di Kuwait secara rahasia pada 1958. Terlebih saat itu situasi yang dialami rakyat Palestina sedemikian memburuk hingga disebut nabka atau kiamat.
Arafat akhirnya memutuskan meninggalkan Kuwait pada akhir 1964 untuk sepenuhnya mengobarkan revolusi. Pada Februari tahun itu juga ia mendirikan Palestine Liberation Organisation (PLO) dengan Fatah sebagai faksi terbesar dan berpengaruh. Sejak saat itu Arafat dikenal dengan penampilan khasnya, dengan kafiyeh sebagai penutup kepala. Pada 1969 Arafat menjadi presiden PLO. Pada tahun itu usaha pembunuhan atas dirinya pertama kali dilakukan Israel.
Pada 1971 Israel kembali memburu Arafat dengan menggempur kendaraannya saat ia berada di Golan. Namun perburuan Israel yang mematikan terjadi pada 13 April 1973. Tembakan helikopter Israel menewaskan tiga tangan kanannya tetapi Arafat luput dari serangan. Pada November 1974 atas dukungan negara-negara Timur Tengah, Arafat tercatat sebagai pemimpin organisasi pertama yang berbicara di depan sidang umum PBB.
Sejak saat itu Arafat semakin mendunia dan menjadi satu-satunya simbol perlawanan dan perjuangan bangsa Palestina. Pada 1982, Israel dengan menteri pertahanannya, Ariel Sharon mengusir Arafat dari Lebanon. Di sini Arafat kembali lolos dari usaha pembunuhan Israel setelah diselamatkan melalui laut oleh pendukungnya dengan bantuan Prancis. November 1983, Prancis kembali menyelamatkan Arafat saat ia dalam bahaya di wilayah utara Lebanon.
Arafat kemudian memboyong PLO ke Tunis, Tunisia, dan kembali digempur Israel pada 1 Oktober 1985. Pada masa ini ditambah dengan percobaan pembunuhan Israel, semua jadwal perjalanan Arafat praktis dirahasiakan. Ketika gerakan Intifada pecah pada 1987, pamor Arafat semakin bersinar dan perhatian dunia terus tertuju pada rakyat Palestina. Setahun kemudian Arafat muncul dalam sidang khusus PBB di Jenewa. Untuk pertama kalinya Arafat melontarkan gagasan two state dengan Palestina dan Israel di dalamnya. Masa-masa ini praktis merubah hidup Arafat dari gerilyawan menjadi negarawan.
Sejak saat itu kedua belah pihak mulai menggelar pertemuan rahasia, sebagian besar digelar di Norwegia. Hasilnya adalah penandatanganan perjanjian Oslo September 1993 di Washington. Perjanjian ini memberikan Arafat hadiah Nobel perdamaian bersama dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Menteri Luar Negeri Shimon Perez.
Menyusul perjanjian Oslo, pada 12 Mei 1994, Otoritas Nasional Palestina terbentuk dengan Arafat sebagai presidennya. Juli 1994 untuk pertama kalinya Arafat kembali ke Gaza setelah 27 tahun tinggal di pengasingan. Dua tahun kemudian Arafat terpilih sebagai presiden Palestina dan Arafat harus berjuang keras menjaga keutuhan Palestina, menghadapi tuduhan korupsi, dan tekanan kelompok bersenjata yang menyebutnya terlalu lembek menghadapi Israel.
Naiknya kelompok garis Israel menjadikan tekanan
ke Arafat semakin besar. Hal ditandai dengan penyerangan markas besar Arafat di
Muqataa, Ramallah, Tepi Barat pada Desember 2001 sekaligus sebagai awal
pengasingan Arafat oleh Israel. Salah satu foto yang memuat Arafat tengah
bekerja dengan penerangan ala kadarnya menyentak dunia. Itulah perjuangan
Arafat. Sebuah perjuangan tiada akhir.
Jejak Sejarah
Sejumlah momen penting dalam kehidupan dan
perjuangan Yasser Arafat tercantum berikut ini.
1968: Arafat menjadi ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Di
bawah kepemimpinannya, PLO yang didirikan pada 1964, lebih banyak bergerak di
bidang perjuangan di lapangan.
1974: Untuk pertama kalinya Arafat memberikan pidato di PBB. Dalam
pidatonya, ia mengatakan, ''Hari ini saya membawa tangkai zaitun (bermakna
perdamaian, red) dan senjata pejuang pembebasan. Jangan biarkan tangkai zaitun
ini terlepas dari tangan saya.'
1975: Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa kepentingan bangsa Palestina
tak lagi dapat diabaikan dalam proses perdamaian Arab-Israel.
1982: Setelah Israel menginvasi Lebanon, PLO dan Arafat pun terbang ke
Lebanon. Arafat kemudian mendirikan kantor sementara di Tunis, Tunisia.
1993: Perundingan rahasia di Oslo pada 1993 berujung pada jabat tangan
bersejarah antara Arafat dan Yitzak Rabin, perdana menteri Israel saat itu.
1994: PLO dan Arafat pulang ke Gaza setelah 12 tahun memimpin PLO dari
Tunis.
1999: Arafat menjalin kesepakatan dengan perdana menteri saat itu, ehub
Barak. Namun kesepakatan ini tak diterapkan.
2001: Arafat menunjukkan solidaritasnya atas serangan 11 September di AS,
dengan memberikan donor darah.
2001: Perdana Menteri Israel menyebut Arafat ''tidak relevan'' dan
menempatkan Arafat dalam tawanan rumah di kantornya di Muqata, Ramallah.
Sebagain gedungnya pun dihancurkan.
2003: Otonomi Palestina (PA) memilih perdana menteri untuk pertama
kalinya. Mahmud Abbas dipilih pada Aprila 2003, namun kemudian undur diri. Ia
digantikan oleh Ahmed Qorei, hingga kini. Namun Arafat tetap menjadi pemegang
kekuasaan vital dan sumber inspirasi bagi Paletsina.
2004: Sakit yang misterius membuat Arafat ''menyerah'' untuk dirawat di
luar Palestina, yaitu Prancis. Setelah koma, menderita perdarahan otak, Arafat
pun pergi 11 November, saat berusia 75 tahun. bbc/yyn